Tayamum : Pengertian, Dalil, Sebab, Niat dan Tata Cara Tayamum

Alhamdulillah, kita dapat berjumpa lagi di Kajiandoa.com. Jika pada artikel sebelumnya kami sudah membahas cara wudhu yang benar,  pada kesempatan yang baik ini kami akan membahas tentang cara tayamum.

Beberapa point yang akan dibahas yaitu pengertian tayamum, niat tayamum, tata cara tayamum yang benar dan sebab tayamum. Semoga pambahasan ini mudah dimengerti dan bermanfaat.

Pengertian Tayamum

Pengertian Tayamum

Secara istilah syari’at, Tayamum adalah bersuci dari hadats dengan cara mengusap wajah dan tangan menggunakan sho’id yang bersih.

Apa itu sho’id?

Shoi’id adalah permukan bumi seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk bertayammum, baik yang mengandung tanah atau debu maupun tidak.

Dalil Tayamum

Berikut ini dalil tentang disyari’atkannya tayamum dalam Islam yang terdapat pada Al Qur’an dan Hadits,

Firman Allah,

QS. Al Maidah [5] : 6

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al Maidah [5] : 6).

Q.S. al-Nisâ’ [4]: 43

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu,” (Q.S. al-Nisâ’ [4]: 43).

Adapun sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu sebagai berkut,

« وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ »

“Dijadikan bagi kami (ummat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam ) permukaan bumi sebagai thohur/sesuatu yang digunakan untuk besuci (tayammum) jika kami tidak menjumpai air”.

Sebab Tayamum

Dari penjelasan dalil-dalil tentang tayamum diatas, kita mendapati 2 point sebab tayamum. Yang pertama, tidak menjumpai air dan yang kedua, dikarenakan sakit. Dan tayamum tidak hanya boleh dilakukan sebagai pengganti wudhu, melainkan bisa juga sebagai pengganti mandi junub atau mandi besar.

Syekh Mushthafa al-Khin menjelaskan tentang sebab tayamum dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzahib al-Imam al-Syafi‘i (Terbitan Darul Qalam, Cetakan IV, 1992, Jilid 1, hal. 94) sebgai berikut :

1. Ketiadaan Air

Secara kasat mata, artinya benar-benar tidak ada air atau sedang dalam keadaan bepergian.

Secara syara‘, contohnya air yang ada hanya mencukupi untuk kebutuhan minum.

2. Jauhnya Air

Apabila keberadaan air diperkirakan lebih dari 2,5 km atau jarak setengah farsakh. Maka diperbolehkan bertayamum, mengingat jarak tempuh yang jauh terlebih jika ditempuh dengan berjalan kaki.

3. Sulitnya Menggunakan Air

Secara kasat mata, misalnya airnya dekat, namun tidak bisa dijangkau karena ada binatang buas, karena ada musuh, karena dipenjara dan seterusnya.

Secara syara‘, misalnya karena khawatir takut penyakitnya memburuk, atau takut penyakit lama sembuhnya. Sebagaimana riwayat seorang sahabat yang meninggal setelah mandi, sedangkan kepalanya terluka. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Padahal, cukuplah dia bertayamum, membalut lukanya dengan kain, lalu mengusap kain tersebut dan membasuh bagian tubuh lainnya.” (H.R. Abu Dawud)

4. Kondisi Sangat Dingin

Jika menggunakan air akan menyebabkan kedinginan dan tidak ada sesuatu yang dapat mengembalikan kehangatan tubuh.

Diriwayatkan bahwa ‘Amr ibn ‘Ash pernah bertayamum dari junubnya karena kedinginan.  Hal itu lalu disampaikan kepada Rasulullah saw., dan beliau pun mengakui serta menetapkannya, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud. Namun, dalam keadaan terakhir ini, terlebih jika ada air, seseorang diharuskan mengqadha shalatnya.

6 Hal yang Harus Diperhatikan sebelum Tayamum

  1. Tayamum harus dilakukan setelah masuk waktu shalat.
  2. Jika alasannya ketiadaan air, maka hal tersebut harus dibuktikan setelah melakukan pencarian dan pencarian itu dikerjakan setelah masuk waktu.
  3. Tanah yang dipergunakan harus yang bersih, lembut, dan berdebu. Artinya, tidak basah, tidak bercampur tepung, kapur, batu, dan kotoran lainnya.
  4. Tayamum hanya sebagai pengganti wudhu dan mandi besar, bukan pengganti menghilangkan najis. Artinya, sebelum bertayamum, najis harus dihilangkan terlebih dahulu.
  5. Tayamum hanya bisa dipergunakan untuk satu kali shalat fardhu. Berbeda halnya jika usai shalat fardhu dilanjutkan dengan shalat sunat atau membaca Al-Quran. Maka rangkaian ibadah itu boleh dengan satu kali tayamum.
  6. Tayamum berbeda dengan wudhu. Jika wudhu setidaknya ada enam rukun, maka tayamum hanya memiliki empat rukun: (1) niat dalam hati, (2) mengusap wajah, (3) mengusap kedua tangan, (4) tertib.

Niat Tayamum

Niat Tayamum

Adapun niat tayamum sebagai berikut,

نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لِاِسْتِبَاحَةِ الصَّلاَةِ فَرْضً ِللهِ تَعَالَى

Nawaitut tayammuma li-istibahatis sholaati fardhal lillaahi ta’aalaa

Artinya:“Sengaja aku  bertayamum untuk melakukan sholat, fardhu karena Allah Ta’ala”

Tata Cara Tayamum

Berikut ini hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara tayamum,

Cara tayammum Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dijelaskan hadits ‘Ammar bin Yasir rodhiyallahu ‘anhu,

بَعَثَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ ، فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ ، فَتَمَرَّغْتُ فِى الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ، ثُمَّ مَسَحَ بِهَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ ، أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku mengalami junub dan aku tidak menemukan air. Maka aku berguling-guling di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam. Lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya seperti ini”. Seraya beliau memukulkan telapak tangannya ke permukaan bumi sekali pukulan lalu meniupnya. Kemudian beliau mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. (HR. Bukhori no. 347, Muslim no. 368)

Dan dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori,

وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ وَاحِدَةً

“Dan beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.

Berdasarkan keterangan hadits tersebut, bisa kita ambil kesimpulan cara tayamum Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sllamsebagai berikut :

  1. Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan sekali pukulan kemudian meniupnya.
  2. Kemudian menyapu punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya.
  3. Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
  4. Semua usapan baik ketika mengusap telapak tangan dan wajah dilakukan sekali usapan saja.
  5. Bagian tangan yang diusap adalah bagian telapak tangan sampai pergelangan tangan saja atau dengan kata lain tidak sampai siku seperti pada saat wudhu.
  6. Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah, demikian juga untuk hadats kecil.
  7. Tidak wajibnya urut/tertib dalam tayammum.

Pembatal Tayamum

Pembatal tayamum sama dengan pembatal wudhu. Apabila seseorang sudah menemukan dan dapat menggunakan air, maka tidak diperbolehkan tayamum lagi. Akan tetapi ibadah yang sudah ia kerjakan sebelumnya tetap sah dan tidak perlu mengulanginya.

Hal ini berlandaskan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dijelaskan oleh Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, yang artinya :

Dua orang lelaki keluar untuk safar. Kemudian tibalah waktu shalat dan tidak ada air di sekitar mereka. Kemudian keduanya bertayammum dengan permukaan bumi yang suci lalu keduanya shalat. Setelah itu keduanya menemukan air sedangkan saat itu masih dalam waktu yang dibolehkan shalat yang telah mereka kerjakan tadi. Lalu salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulangi shalat sedangkan yang lainnya tidak mengulangi shalatnya. Keduanya lalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dan menceritakan yang mereka alami. Maka beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan kepada orang yang tidak mengulang shalatnya, “Apa yang kamu lakukan telah sesuai dengan sunnah dan kamu telah mendapatkan pahala shalatmu”. Beliau mengatakan kepada yang mengulangi shalatnya, “Untukmu dua pahala”. (HR. Abu Dawud no. 338, An Nasa’i no. 433. Dinyatakan shohih oleh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 3861.)

Baca juga : Doa Menyambut Ramadhan dan Doa Melihat Hilal

Demikianlah penjelasan tentang pengertian tayamum, sebab tayamum, niat tayamum, tata cara tayamum dan pembatal tayamum. Semoga apa yang sudah kami tuliskan pada website ini dapat bermafaat untuk kita semua.